Wali Santri Keluhkan Biaya Rapid Test Yang Dinilai Sangat Mahal

Tuesday, June 9, 2020 | 17:52

Bagikan:
H Muhammad Shaberah, salah satu wali santri yang mengeluhkan mahalnya biaya rapid test.(9/6)


Tarakan - korandigitalnet.com - Pasca perpanjangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di kota Tarakan, selama 14 hari kedepan, terhitung dari tanggal 7 sampai 20 Juni 2020, membuat sejumlah santri asal Gontor masih tertahan di Tarakan, dikarenakan sebelum berangkat menggunakan armada udara ataupun laut, para penumpang harus menjalani rapid test terlebih dahulu. Selasa (9/6/2020)

Ke-75 orang santri dari Pondok Pesantren Modern Gontor asal Kaltara, yang saat ini berada di kota Tarakan mengeluhkan mahalnya biaya rapid test yang diterapkan oleh pemerintah.

Saat korandigitalnet.com menemui salah satu orang tua santri ( H.Muh.Shabera ) mengatakan, kalau ke - 75 santri tersebut mestinya sudah masuk pondok, paling lambat 17 Juni," kami wali santri tidak diperbolehkan mengantar, jadi yang akan mengantar kembali ke pondok adalah perwakilan Ikatan Alumni Pesantren Modern Gontor ( IKPMG )," kata pria yang akrab di panggil H Shaberah ini.

"Kami para orang tua santri sangat kesulitan dalam hal biaya rapid test yang mencapai 1 juta, ditambah lagi harga tiket 2 juta, dari 75 santri ini, ada 40 anak merupakan warga Tarakan, makanya saya sebagai wali santri berinisiatif menghubungi walikota Tarakan (Khairul ) agar bisa membantu 40 santri dari Tarakan ini, namun oleh walikota saya di arahkan ke pak Gubernur Kaltara, agar bisa di rapid test di RSUD Tarakan dengan biaya dibawah 1 juta, beliu juga mengatakan kalau di sana paling murah bahkan bisa gratis,' Jelas H Shaberah.

Lanjut H Shaberah bahwa, setelah dirinya menerima jawaban dari walikota tersebut, ia langsung menghubungi Gubernur Dr H Irianto Lambrie melalui WA," Saya juga sudah WA ke pak gubernur karena RSUD Tarakan adalah di kewenangan pemerintah provinsi Kaltara," Urai H Shaberah yang saat ini juga masih menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Tarakan.

Mewakili seluruh orang tua santri yang ada kota Tarakan berharap, agar Gubernur Kaltara dapat memfasilitasi untuk membantu meringankan biaya rapid test, seperti halnya di kota Bekasi, dimana pemerintah setempat menggratiskan 1.481 orang santri Gontor yang hendak kembali ke pesantren," walikota Bekasi menggratiskan biaya rapid test, ribuan santri loh, kok Tarakan tidak bisa, inikan untuk pendidikan, Kalau untuk pengusaha ya wajar sajalah, biaya setinggi itu tidak jadi masalah buat mereka," Jelas H Shaberah.

Terlebih lagi, hampir kesemua santri dari Gontor ini tidak memiliki dana yang cukup, perekonomian para wali santri di bawah rata-rata menengah ke bawah, sehingga agak kesulitan membayar biaya rapid test," Covid-19 ini melumpuhkan usaha dan pekerjaan para wali santri, biaya tiket pesawat saja ini lumayan memberatkan kami, untuk itu, saya mewakili orang tua para santri, sangat berharap kepada pak H Irianto Lambrie, bisa di gratiskan seperti di Bekasi, ini demi dunia pendidikan anak-anak Kaltara juga," Harap H Shaberah. ( YL )
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM