Zulfikar : Izin Color Run, Wewenang Pemerintah Kota

Tuesday, February 4, 2020 | 20:05

Bagikan:
Zulfikar Arif (ZA) - Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah


Tarakan - korandigitalnet.com - Perayaan color run menjadi tradisi penganut keyakinan yang menyakralkan ritual untuk mnyambut datangnya musim semi. Secara religius, momentum dari color run ini jatuh antara bulan februari dan awal maret. Perayaan tersebut menandai transisi dari gelap dan dinginnya musim dingin ke hangat dan cerahnya musim semi yang perayaannya itu disebut festival holi.

Seperti kata ZA (Selasa, 04/01/2020) yang mewakili suara Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) kota Tarakan bahwa itulah hakikat religius di balik fenomena tersebut yang mungkin kita tidak sadari dan ketahui. ZA juga mengatakan bahwa event color run yang akan digelar 29 februari - 1 maret mendatang, tidak mengindahkan nilai-nilai budaya kearifan lokal.

"Alangkah menjadi ironis tatkala sebagian dari kita justru lebih bangga merayakan budaya luar. Dimana nilai edukasinya jika sebagian dari kita justru lebih bangga untuk melestarikan budaya luar dengan perayaan ini? Mengapa mereka tidak mengambil momentum di perayaan Iraw lalu?" tanya ZA.

"Ini suatu wujud kreativitas yang memiskinkan identitas nasional kita. Kreatif yang menginspirasi itu adalah kreativitas yang mengusung budaya lokal menjadi tuan di negerinya sendiri," ucapnya.

"Salah satu dari sekian banyak ironi kehidupan adalah melakukan sesuatu yang salah di momen yang tepat. Nilai hidup kita dalam berbangsa dan bernegara itu tergantung pada kesadaran dan kekuatan kontemplasi (perenungan), hidup ini perbuatan, bukan hanya sekadar bertahan hidup. Kalau hidup hanya sekadar hidup, maka babi juga hidup."

"Mestinya kita belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Dan kita menjadi bijak itu bukan karena pengalaman di masa lalu saja, tetapi juga karena tanggung jawab kita akan masa depan. Kita tak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kita harus memulai untuk menjadi luar biasa," lanjut ZA.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pribadi dan mewakili AMM mengapresiasi bentuk kreativitas pihak penyelenggara, dan ucapan terimakasih atas responsif serta kesediaannya menerima kritik kami, bahkan bersedia merubah konsep kegiatannya agar lebih bersahabat dengan publik."

"Penolakan kami harap jangan dimaknai sebagai sikap pengerdilan atas kreativitas penyelenggara, kami punya nawaitu yang baik, niat kami sekadar mengingatkan agar jangan sampai nilai kreatif kegiatan color run ini hanyalah euforia belaka yang sifatnya destruktif," kata ZA.

"Kita lebih kepada mengantisipasi jangan sampai kita kecolongan oleh hal-hal yang tidak berorientasi kepada asas manfaat. Upaya ini adalah langkah preventif, agar budaya ini tidak semakin berkembang kemudian liar."

"Lalu ada yang merasa kritis dengan pertanyaan yang terlalu sederhana untuk dijawab, kenapa tempat hiburan malam seperti diskotik tidak dikritisi? Saya pastikan itu salah besar karena mungkin mereka kurang update informasi, padahal bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah pasang badan mendemostrasikan itu. Tapi yang perlu di garis bawahi bahwa mereka mengantongi izin resmi, dan terkait keputusan perizinan, itu mutlak hak pemerintah daerah (Pemda), bukan kapasitas MUI, apalagi kami."

"Sama halnya color run ini, kami hanya sebatas mendemonstrasikan penolakan kami. Tapi bicara soal resmi diizinkan atau tidak, itu bukan wewenang kami, semua tentu berpulang ke Pemda selaku pemangku keputusan."

"Di samping itu, karena budaya holi adalah penyakralan ritual suatu keyakinan di luar Islam, maka jika kaitannya sudah dalam konteks prinsip keyakinan, kategori ini bisa berpotensi menjadi 'bid'ah yang tidak diperbolehkan' secara syariat Islam manakala itu dilakoni. Sementara syetan lebih menyukai mereka yang berbuat bid'ah daripada berbuat maksiat."

"Alasannya, kalau maksiat mereka masih bisa sadar dan berubah, sebab mereka tahu kalau apa yang dilakukannya itu salah. Berbeda dengan bid'ah, susah untuk dirubah, sebab ia menganggap dan bahkan meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu sudah sangat benar," tuturnya.

"Saya berharap agar masyarakat juga tidak apriori. Mari sama-sama menjunjung budaya asli bangsa dengan menjadikannya tuan di negerinya sendiri, demi menularkan generasi bangsa yang berkarakter. Karakter yang mengangkat tujuan moral, memperlihatkan kelas kita dalam hal memilih atau menghindari."

"Subtansinya, kami tidak lagi mempersoalkan jenis kegiatannya terlepas orientasinya untuk kepentingan bisnis, namun yang masih kami persoalkan adalah tujuan awalnya, tanggal dan tempat pelaksanaannya, serta pesertanya yang mayoritas Muslim yang mungkin masih labil atau awam dalam mengenal color run," tutup ZA.(DF)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM