Color Run Identik Dengan Dugeman ?

Saturday, February 1, 2020 | 01:48

Bagikan:
Saat Ketua IPM Tarakan Surat Las Nugieyanto (Nugie) memberikan keterangan terkait event color run.(01/2).



Tarakan - korandigitalnet.com - Angkatan Muda Muhammadiyah tak hentinya menyoroti event color run yang dianggap perlu diwaspadai kedatangannya masuk di kota Tarakan. Melawan lupa dengan belajar dari pengalaman color run 2015 lalu di stadion Datu Adil Tarakan, dan perpisahan ala color run di 2018 Binalatung Beach oleh salah satu sekolah di Tarakan, ketika color run berhasil membuat para gabungan penolak merasa kecolongan.

Jum'at (31 Januari 2020), Surat Las Nugieyanto (Nugie) mengatakan bahwa dalam penolakan yang dimaksud bukan serta merta memvonis bahwa niat mereka adalah menyaklarkan ritual tradisi itu, wallahu a'lam bishawab. Tetapi, tidak salah juga ketika pihaknya patut mencurigainya yang bukan tanpa alasan.

"Sedari awal mereka mendeklarasikan kegiatannya itu adalah suatu momentum atau dalam rangka memperingati budaya luar yaitu festival holi, mengapa bukan ambil momentum diperayaan budaya lokal, misalnya Iraw? Itu yang pertama, Lalu yang kedua, pagelaran kegiatan itu bertetangga persis di samping masjid Islamic Centre yang geografisnya tanpa spasi pembatas. Ketiga, sudah bukan rahasia umum bahwa rangkaian acara color run bisa dibilang identik dengan dugeman. Kalau mau berdugem jangan di ruang publik dong, kan sudah ada tempatnya," sambung Nugie.

Nugie menyinggung tentang  tanggal pelaksanaan yang dianggap dikait-kaitkan dimana orang lain juga pasti akan melaksanakan acara pada tanggal tersebut, semisal akad nikah, ulang tahun, akikah, khitanan, dan lain sebagainya. Bagi orang waras tentu akan memandangnya sebagai perkara yang berbeda konteks.

"Pinjam kata-kata senior saya; bedakan orang yang memaki dengan sebutan binatang dalam kondisi bercanda, dengan orang yang memaki dengan sebutan binatang dalam kondisi marah."Urai Ketua IPM Tarakan ini.

"Sebagaimana (HR. al-Bukhari) disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW menyukai untuk menyamai Ahlul Kitab dalam hal yang tidak diperintahkan, dalam arti di luar masalah keagamaan. Sangat jelas bahwa kita bahkan dianjurkan untuk menyerupai suatu kaum selama koridornya di luar dari konteks keagamaan."Jelas Nugie.

"Jadi jangan juga sebaliknya ada pihak yang menjustifikasi dengan mengait-ngaitkan bahwa kami men-generalisir setiap hajatan yang digelar di tanggal itu kami anggap keliru," imbuhnya.

"Adapun apologi yang mengatakan bahwa momentum itu hanya kebetulan saja, termasuk Hari Solidaritas LGBT yang peringatannya juga bertepatan di tanggal 1 maret. Lalu mereka menunjukkan bukti dokumentasi kegiatannya sebagai pembenaran jika mereka sering membuat event tidak selalunya di tanggal dan bulan itu."

"Kami juga biasa mengadakan suatu event dalam rangka menyambut ataupun memperingati. Semisal dimomentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Kartini, dan lain sebagainya. Semuanya dengan tanggal dan bulan yang berbeda, sebab menyesuaikan momentum. Artinya bahwa semua event itu tidak lepas dari suatu momentum yang secara sadar dilakukan dengan sengaja dan terencana campur niat," terangnya.

"Lagipun dari awal mereka terang-terangan kok mendeklarasikan bahwa kegiatan mereka tersebut adalah color run sebagai momentum perayaan budaya holi. Maka darimana dalih secara kebetulannya itu?" ungkap Nugie.

"Sumber masalahnya adalah mereka terlanjur mengumumkan kegiatannya itu color run yang spontan membuat kami micstoring, jadi kalau mau jujur, sebenarnya perubahan konsepnya itu tidak mengurangi daya lekat sumbernya. Kalau cuma merubah konsep, malah memang sudah dari sananya keaslian budaya itu untuk disengajakan dirubah lebih modern dengan maksud dan tujuan kepentingan."

"Bicara soal perombakan konsep jenis kegiatan, kan cuma casing dan akal-akalan saja. Tapi isinya tidak lain adalah perayaan sakral suatu ritual budaya yang bertentangan dengan syariat Islam. Memang secara prosesi tidak seperti aslinya, namun representasi dari ritual itu terwakilkan oleh simbol-simbolnya seperti bubuk warna-warni dan momentumnya."

"Jadi penjelmaan tradisi penyaklaran ritual budaya holi ini dimanifestasikan dalam bentuk modern dengan tujuan untuk mengelabui atau mengecoh fokus dogma yang tidak sejalan dengan tradisi itu, sehingga orang menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya, dan dimanfaatkanlah sisi lemahnya untuk kepentingan bisnis," jelasnya.

"Ini serupa dengan rekayasa sosial yang didesain untuk menembus suatu sistem yang dianggap memiliki sistem keamanan yang kuat, yang tanpa disadari bahwa para orang-orang dari sisi gelap setiap saat tengah berusaha untuk menggunakan berbagai macam cara yang berbeda-beda untuk menjebol sistem keamanan tersebut," sambungnya lagi.

"Saya pikir terlalu mengada-ngada jika secara multi efek color run ini dianggap dapat meningkatkan PAD secara signifikan jika dipetik dari sisi ekonomi. Menurutku, persepsi itu terkesan memandang rendah pemerintah. Siapa yang diuntungkan dalam kegiatan ini, pemerintah atau panitia?"

"Seberapa besar sih multi efek yang bisa dihasilkan hingga harus mengorbankan moral dan akidah generasi kita? Asas manfaat dan multi mudharatnya harus ditimang timbang dulu," tutup Nugie.(DF)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM