FM : Momentum Perayaan Color Run Adalah Kebenaran, Bukan Kebetulan

Monday, January 20, 2020 | 12:32

Bagikan:
Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Tarakan Fajar Mentari,S.Pd.



Tarakan - korandigitalnet.com - Perayaan color run menjadi tradisi penganut suatu keyakinan yang menyakralkan ritual untuk mnyambut datangnya musim semi. Secara religius, momentum dari color run ini jatuh antara bulan februari dan awal maret. Perayaan tersebut menandai transisi dari gelap dan dinginnya musim dingin ke hangat dan cerahnya musim semi yang perayaannya itu disebut festival holi.

Seperti kata FM (Jum'at, 17/01/2020) yang mewakili suara Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) kota Tarakan bahwa itulah hakikat religius di balik fenomena tersebut yang mungkin kita tidak sadari dan ketahui. FM juga mengatakan bahwa event color run yang akan digelar 29 februari - 1 maret mendatang, selain itu merupakan budaya luar yang sifatnya untuk menyaklarkan suatu ritual yang bernotabene bukan budaya lokal, juga bertentangan dengan syariat Islam, tapi pesertanya mayoritas Muslim.

"Dimana nilai edukasinya jika sebagian dari kita justru lebih bangga untuk melestarikan budaya luar dengan perayaan ini? Bukankah ini suatu wujud kreativitas yang justru memiskinkan identitas nasional kita! Mengapa mereka tidak mengambil momentum perayaan Iraw lalu?" tandasnya.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pribadi dan mewakili AMM mengapresiasi bentuk kreativitas rekan-rekan panitia penyelenggara, dan ucapan terimakasih atas responsif serta kesediaannya menerima kritik kami, bahkan bersedia merubah konsep kegiatannya agar lebih ramah untuk diterima publik," ucap FM.

"Penolakan kami harap jangan dimaknai sebagai sikap pengerdilan atas kreativitas rekan-rekan, kami punya nawaitu yang baik, niat kami sekadar mengingatkan agar jangan sampai nilai kreatif kegiatan color run ini hanyalah euforia belaka yang sifatnya destruktif."

"Kita lebih kepada mengantisipasi jangan sampai kita kecolongan oleh hal-hal yang tidak berorientasi kepada asas manfaat. Kami juga tidak boleh berburuk sangka dan serta merta memvonis bahwa niat mereka adalah menyaklarkan ritual tradisi itu. Tetapi tidak salah juga ketika kami patut mencurigainya yang bukan tanpa alasan."

"Pertama, sedari awal mereka mendeklarasikan kegiatannya itu adalah suatu momentum atau dalam rangka memperingati budaya luar yaitu festival holi, mengapa bukan momentum memperingati budaya lokal? Lalu yang kedua, pagelaran kegiatan itu dibikin tetanggaan dengan masjid yang geografisnya tanpa spasi pembatas. Ketiga, sudah bukan rahasia umum bahwa kegiatan itu selalu identik dengan dugeman," lanjut FM.

"Lalu menyinggung tanggal pelaksanaan yang dianggap dikait-kaitkan dimana orang lain juga pasti akan melaksanakan acara pada tanggal tersebut, semisal akad nikah, ulang tahun, akikah, khitanan, dan lain sebagainya, saya pikir itu beda konteks. Bedakan orang yang memaki dengan sebutan binatang dalam kondisi bercanda, dengan orang yang memaki dengan sebutan binatang dalam kondisi marah."

"Sebagaimana disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW menyukai untuk menyamai Ahlul Kitab dalam hal yang tidak diperintahkan, dalam arti di luar masalah keagamaan (HR. al-Bukhari). Sangat jelas bahwa kita bahkan dianjurkan untuk menyerupai suatu kaum sepanjang koridornya di luar dari konteks keagamaan, jadi jangan juga sebaliknya ada pihak yang mengait-ngaitkan bahwa kami men-generalisir setiap hajatan itu kami anggap keliru."

"Adapun alasan mereka lainnya bahwa momentum itu hanya kebetulan saja, lalu mereka menunjukkan bukti dokumentasi kegiatannya sebagai pembenaran jika mereka sering membuat event tidak selalunya di tanggal dan bulan itu."

"Membuat suatu event itu hal yang disengaja dan terencana, dan tidak lepas dari suatu momentum. Saya juga biasa mengadakan event dalam rangka menyambut ataupun memperingati. Misalnya dimomentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Kartini, dan lain sebagainya. Semuanya dengan tanggal dan bulan yang berbeda, sebab menyesuaikan momentum. Semua event itu sengaja saya buat dan saya rencanakan campur niat," lanjutnya lagi.

"Jadi malah terkesan apologi dan justifikasi jika ada dalih bahwa momentum itu hanya karena kebetulan saja, sementara dari awal mereka terang-terangan mendeklarasikan bahwa kegiatan mereka ini adalah color run. Maka darimana secara kebetulannya itu?"

"Bicara soal perubahan konsep jenis kegiatan, kan cuma pembungkus luar dan akal-akalan saja. Tapi isinya tidak lain adalah perayaan sakral suatu ritual budaya yang berseberangan dengan syariat Islam. Memang secara prosesi tidak seperti aslinya, namun representasi dari ritual itu terwakilkan oleh simbol-simbolnya seperti bubuk warna-warni dan momentumnya," tutur FM.

"Ini kurang lebih serupa dengan rekayasa sosial, yang didesain untuk menjebol suatu sistem yang dianggap ketat pengamanan, dimana para orang-orang dari sisi gelap setiap hari sedang berusaha untuk menggunakan berbagai macam cara yang berbeda-beda untuk memasuki sistem keamanan tersebut dengan membuat kita lengah dan tidak menyadarinya."

"Jadi penjelmaan tradisi penyaklaran ritual budaya holi ini dimanifestasikan dalam bentuk modern dengan tujuan untuk mengelabui atau mengecoh fokus dogma yang tidak sejalan dengan tradisi itu, sehingga orang menjadi tertarik untuk mengkonsumsinya, dan dimanfaatkanlah sisi lemahnya untuk kepentingan bisnis," terangnya.

"Saya pikir terlalu berlebihan jika secara multi efek dari sisi ekonomi color run ini dianggap dapat meningkatkan PAD. Siapa yang diuntungkan dalam kegiatan ini, pemerintah atau panitia? Manfaat dan mudharat harus ditimang timbang dulu. Dampak negatif yang ditimbulkan dengan multi efek positifnya juga harus diperhitungkan. Seberapa besar sih multi efek yang bisa dihasilkan hingga harus mengorbankan moral dan akidah generasi kita?"

"Di samping itu, color run ini kan penyakralan ritual suatu budaya yang mengarah pada keyakinan di luar keyakinan Islam, dimana penduduk kita adalah mayoritas Islam, sehingga besar kemungkinan pesertanya kebanyakan dari Islam. Jika kaitannya sudah menyinggung soal keyakinan, artinya bisa berpotensi menjadi bid'ah yang tidak diperbolehkan secara syariat Islam manakala itu dilakoni. Sedangkan syetan lebih menyukai mereka yang berbuat bid'ah daripada berbuat maksiat," imbuhnya.

"Kalau maksiat mereka masih bisa sadar dan berubah, sebab mereka tahu kalau apa yang dilakukannya itu salah. Berbeda dengan bid'ah, susah untuk dirubah, sebab ia menganggap dan meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu sudah sangat benar."

"Prinsipnya kami tidak lagi mempersoalkan jenis kegiatannya terlepas orientasinya untuk kepentingan bisnis, namun yang masih kami persoalkan adalah tujuan awalnya, tanggal dan tempat pelaksanaannya, serta pesertanya yang mayoritas Muslim yang mungkin masih labil atau awam dalam mengenal color run," tutup FM.(DF)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM