FM Mengupas Tuntas Semua Klarifikasi Panitia Color Run Tarakan 2020

Jumat, 17 Januari 2020 | 15:03

Bagikan:
Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi AMM kota Tarakan, Fajar Mentari, S.Pd (FM) 


Tarakan - korandigitalnet.com - Event color run yang akan digelar 29 februari - 1 maret di Tarakan menjadi trending topic yang menuai polemik pro dan kontra. Meski penolakan kegiatan itu telah mendapat respon positif dari pihak penyelenggara saat menggelar jumpa pers pada rabu malam (15/01/2020), namun Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tarakan belum merasa puas dengan segala hasil yang disampaikan oleh pihak penyelenggara.

Jum'at (17/01/2020), Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah kota Tarakan, Fajar Mentari, S.Pd (FM) menilai bahwa jumpa pers yang digelar itu tidak memenuhi syarat tabayyun, mestinya mereka juga mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan secara resmi tersurat dan unsur-unsur terkait lainnya.

FM mengatakan, color run sudah menjadi salah satu bagian dari budaya pop yang menjangkit kalangan muda. Jadi tidak heran jika bahkan budaya itu sudah sangat mempopuler dan telah mendekati menjadi budaya permanen di tengah masyarakat Indonesia. Sementara di balik latar belakang religius dan sosialnya color run adalah ritual penyakralan suatu budaya luar yang diperingati untuk menyambut datangnya musim semi, yaitu masa transisi dari gelap musim dingin ke hangat dan cerahnya musim semi yang perayaannya disebut festival holi. Inilah hakikat dibalik fenomena tersebut yang mungkin kita tidak tahu dan sadari.

"Festival holi menjadi ruang meleburnya siapapun tanpa memandang suku ataupun agama. Siapa saja boleh membaur menjadi satu tanpa peduli akan perbedaan satu sama lain. Mereka bersama-sama untuk menyambut sebuah musim yang dinantikan, tanpa memandang siapa dan siapa kita, siapa kamu, siapa mereka, mereka dan mereka," tutur FM.

"Integralistik kegiatan dalam perayaan ritual budaya ini adalah kegiatan berlari secara massal biasanya sejauh 5 kilometer dengan ditaburi bubuk warna-warni yang akan menyambut peserta setiap melewati satu kilometernya, dimana peserta diharuskan membayar beberapa ratus ribu rupiah. Dengan mendaftar, peserta akan memperoleh perlengkapan lari seperti kaos tipis dan nomor peserta. Kalau kegiatan intinya adalah berlari, lantas apa yang membedakan color run dengan acara lari massal lainnya?"

"Selain kegiatan berlari, adapun rangkaian kegiatan pendukung lainnya yang dijadikan sebagai alat untuk memeriahkan suasana dengan motif komersial. Jadi color run itu tradisi luar untuk menyaklarkan suatu ritual yang bertentangan dengan budaya kearifan lokal."

"Budaya luar itu lalu dimodifikasi menjadi produk yang lebih modern oleh oknum untuk mengalihkan fokus dogma yang tidak sejalan dengan budaya itu, juga supaya khalayak ramai menjadi tertarik untuk berpartisipasi, dan dimanfaatkanlah sisi kelemahannya oleh oknum yang membisniskannya. Ini semacam rekayasa sosial, yang didesain untuk menjebol suatu sistem yg dianggap sebagai suatu sistem yang aman, yang sesungguhnya tanpa sadar, para orang-orang dari sisi gelap setiap hari sedang berusaha untuk menggunakan berbagai macam cara yang berbeda-beda untuk memasuki sistem keamanan tersebut," sambung FM.

"Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini menghadapkan kita pada suatu keprihatinan dan sekaligus mengundang kita untuk turut bertanggung jawab atas krisis identitas nasional. Pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan identitas nasional perlu dilakukan untuk memajukan kebudayaan Indonesia. Namun, alangkah menjadi ironis tatkala sebagian dari kita justru lebih bangga merayakan budaya luar," ucap FM.

"Menjadi miris jika kreatifitasnya lebih mengedepankan budaya luar. Pertanyaannya sederhana, kenapa kegiatannya tidak ambil momentum di acara Iraw kemarin, yang jelas budaya lokal? Kenapa ambil momentum pas diperayaan festival holi yang notabenenya memperingati ritual budaya luar?"

"Sedari awal mereka sudah terlanjur memproklamasikan bahwa kegiatan color run tersebut akan digelar tanggal 29 februari - 1 maret, dimana kenyataannya (bukan kebetulan) perayaan itu memang jatuh di akhir februari hingga awal maret, jadi momentumnya yang tidak tepat, kendati sekarang konsep acaranya sudah dirombak. Kenapa momentumnya nggak ngambil di perayaan Iraw lalu?"

"Dengan kata lain niat awalnya sudah di atas level mencurigakan. Apalagi kalau ditambah kata si penyelenggara bahwa tanggal 1 maret itu hanyalah kebetulan saja bertepatan dengan dideklarasikannya hari nasional diperingatinya hari solidaritas LGBT, maka saya meminta mereka belajar dengan om Napi (narapidana)."

"Kata om Napi bahwa kejahatan itu terjadi bukan hanya karena adanya niat sang pelaku, tapi juga bisa karena adanya kesempatan. Jadi dalam hal ini, penyelenggara memberikan media kepada para kaum LGBT untuk menyalurkan hasrat gemulainya, penyelenggara membuka ruang kepada para LGBT untuk berkesempatan menyalah gunakan kodrat lahiriyahnya," imbuhnya.

"Lalu ada persepsi yang mau menyamakan dengan hari valentine days yang katanya dulu juga mendapat penolakan dan sekarang terbukti aman-aman saja. Apakah itu berarti kita tidak perlu mengantisipasi datangnya virus baru yang mencoba merasuki kehidupan sosial budaya kita?"

"Kalau kita cerdas, justru karena itulah, kalau sudah tahu begitu keadaannya, mestinya yang dilakukan adalah "mengusirnya" dengan cara-cara yang lebih elegan agar dapat diterima oleh masyarakat pengkomsumsinya. Itu yang pertama."

"Kedua, kalau sudah tahu bahwa itu adalah virus yang merasuk secara massal dan mewabah, seyogianya kan dikurangi dengan cara antisipasi dini, jangan sampai color run ini juga menular seperti valentine days, ini kok malah mau ditambah! Saya menganalogikannya ibarat orang yang sudah tidak pernah sembahyang, tapi malah nambah dosa, semisal dengan berzinah, narkoba, dan berbuat maksiat atau kejahatan lainnya," kata FM.

"Katanya lagi akan mendatangkan tamu dari luar daerah, yang kemudian nginap di hotel. Mereka nginap di hotel dalam rangka apa? Mungkin saja mereka adalah korban yang terjebak rugi karena sudah terlanjur daftar, padahal niat awalnya mau bereuforia, sebab di awal promosi itu ada dugemannya, tapi ujung-ujung batal. Apakah tidak berpotensi balas dendam di dalam kamar hotel? Siapa yang bisa jamin mereka nggak tanda kutip. Mau ngapain mereka di hotel datang jauh-jauh dari seberang kalau cuma untuk tidur? Di seberang sana mereka juga bisa tidur kok kalau cuma untuk sekedar tidur," tandas FM.

Saat ditanya bagaimana sikap anda jika kegiatan ini telah mendapat izin resmi dari Walikota, sementara anda adalah orang yang bekerja dalam payung pemerintah? "Tentu saya pribadi dan sahabat AMM lainnya akan menghadap ke beliau langsung sebagai langkah awal menempuh jalan yang terbaik, namun jika kegiatan tersebut tetap mendapatkan restu Walikota, dan Muhammadiyah juga tetap pada prinsip perjuangan, maka saya akan tetap memilih untuk berdiri di barisan Muhammadiyah," jawab FM.

"Jika pun itu dianggap sebagai suatu pelanggaran, saya dianggap melawan atau membangkang yang resikonya bisa sampai kepada pemecatan, maka demi menjaga kehormatan perjuangan Muhammadiyah, saya tegaskan dan pastikan bahwa dengan segala konsekuensi hukum, saya ikhlas untuk mempertaruhkannya. Saya akan berkorban untuk Muhammadiyahku. Lebih baik saya dikatakan pembangkang, daripada sebagai pengkhianat persyarikatan," sambungnya.

"Kami dikader di Muhammadiyah tidak untuk menjadi seorang pengecut yang mundur ketika diberangkatkan untuk berperang. Itu salah satu hal yang sangat prinsip dalam Muhammadiyah. Tunduk tertindas atau bangkit melawan? Karena mundur adalah pengkhianatan!"

FM juga mengatakan bahwa kendati penyajian konsepnya sudah dirubah ramah seterbaik mungkin, yang menjadi
subtansi utama lainnya bukan hanya itu. Akar masalah lainnya adalah itu tidak lain sebuah perayaan sakral dari ritual yang tidak sejalan dengan keyakinan umat Muslim. Sementara pesertanya hampir semuanya Muslim. Kendati konsepnya sudah bersahabat, mau itu cuma main gaplek saja, main catur saja, atau kegiatan ramah lainnya, kami sudah tidak mempersoalkan jenis kegiatannya.

"Jadi seramah apa pun perubahan konsep kegiatannya, persetan dengan semua itu, prinsipnya mereka menyambut perayaan ritual budaya yang berpotensi merusak akidah Islam. Tidak ada toleransi jika ranahnya sudah mengarah pada pemandulan akidah," tandas FM.

"Secara syariat jelas itu melanggar, dan itu bukan saya yang bicara, melainkan Allah dan Rasulullah SAW, bahwa barang siapa pun Muslim yang mengikuti suatu kaum, maka mereka termasuk golongannya. Sebenarnya kita dianjurkan kok untuk menyerupai kaum lain, namun dengan catatan koridornya di luar dari konteks keagamaan. Sebagaimana HR: al-Bukhari bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW menyukai untuk menyamai Ahlul Kitab dalam hal yang tidak diperintahkan (di luar masalah keagamaan)."

"Kami sangat menghargai keyakinan umat lain, sebaliknya kami berharap keyakinan kami juga dihargai. Saya pikir itu sudah menjadi keharusan kita semua untuk saling menghargai satu sama lain. Hendaknya kita bisa saling menghargai keyakinan masing-masing."

"Jadi penolakan kami jangan lantas dimaknai mengurusi keyakinan lain, atau bahkan tidak menghargai keyakinan yang berbeda. Yang kami urus adalah menjaga akidah keyakinan kami sendiri, sebab mereka menerima peserta yang hampir semuanya Muslim. Sebagai umat Islam, terlebih lagi kami dari Ormas Islam Muhammadiyah, tentu sudah menjadi kewajiban kami untuk syiar saling mengingatkan demi menggulung tikar kemunkaran."

"Di samping itu, alasan penolakan kami lainnya adalah ada kekhawatiran jika saja kegiatan ini kita berikan kelonggaran, apakah tidak menjadi masalah baru yang lebih besar kalau ini menjadi perayaan rutin tahunan yang tidak menutup kemungkinan akan semakin liar?"

"Karenanyalah kami meminta kepada semua pihak terkait untuk mengkajinya ulang. Harapannya ke depan agar pihak penyelenggara dapat membuka cakrawala berpikir secara lebih luas dalam memilah bentuk kreatifitas," tutupnya.(DF)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM