Fajar Mentari : Kaltara Kedatangan Orang Sukses Berkedok Pengemis.

Tuesday, January 7, 2020 | 10:14

Bagikan:
Fajar Mentari , Aktivis muda Kaltara 



KoranDigitalNet.com - Tarakan - Maraknya para pengaku kaum duafa yang mengemis keliling di Kabupaten - Kota di Kalimantan Utara (Kaltara) telah menjadi isu central diperbincangkan oleh khalayak ramai masyarakat Kaltara.(6/1/2020)

Menyikapi hal tersebut, salah satu aktivis muda Tarakan yang sekarang mengetuai bidang pendidikan dan kaderisasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) kota Tarakan, Fajar Mentari turut prihatin dengan kemunculan banyak penampakan pemburu sedekah yang kian menjamur di Kaltara.

Menurutnya ini adalah penyakit yang penyebarannya tidak boleh dibiarkan bergerak liar. Berhubung ini adalah penyakit yang kurang diketahui oleh banyak orang, sehingga sudah seharusnya untuk diinformasikan dan disebarkan kepada masyarakat luas.

Jadi bukan bicara soal ikhlasnya, tapi ini adalah modus kejahatan yang bersifat menipu. Saya mengemis maaf, berdasarkan banyak temuan di lapangan, para pemburu sedekah atau pengemis ini kebanyakan oknum-oknum berasal dari salah satu daerah di pulau Jawa. Konon katanya, di sana memang ada kampung yang menganut tradisi mengemis, makanya disebut Kampung Pengemis. Memang banyak sekali data dan fakta yang bisa kita jumpai di media berita terkait ini dengan mencarinya di google. Woow, ternyata mereka sekarang jadi orang kaya yang tak pernah puas.

Mereka memang sengaja didatangkan secara berkelompok dari kota ke kota, khusus untuk melakukan aksi mengemis, Perkelompok biasanya berjumlah sedikitnya 10 orang, setiap kelompok menyebar di semua wilayah. Usai menggarap 1 kota, mereka lalu bergeser ke kota yang lain, dan berganti dengan kelompok baru, dan begitu seterusnya.

Coba kita berhitung, dari pintu ke pintu, pengemis hanya butuh waktu "paling lama 2 menit" untuk minta sedekah. Dalam sehari, mereka operasi bisa 7 sampai 8 jam. Kita ambil angka kecilnya 7 x 60 menit = 420 : 2 menit = 210 rumah artinya yang bisa digarapnya. Anggaplah dalam sehari ia berhasil mengetuk "minimal" 100 pintu dikali Rp.2.000, artinya dalam sehari ia bisa menghasilkan Rp. 200.000 minimalnya. Itu hasil ngemis persatu orang. Bagaimana jika ada yang nyumbang Rp. 5.000, Rp. 10.000, atau di atasnya?

Tak jarang juga mereka berkamuflase dengan menjual sticker mantra tolak bala, mantra pengusir setan, mantra magnet rejeki, dan mantra sihir lainnya. Atau berupa buku kecil yang mungkin isinya tentang ayat-ayat cinta. Seringkali dari kita tidak membelinya, namun tetap memberikannya uang iba. Kalaupun dibeli, mereka mendapat untung 100% lebih dari harga modal.

Koordinator atau bosnya ini yang memang agak sulit untuk ditangkap, sebab di samping kurangnya pemahaman warga terkait modus kejahatan bertopeng kaum duafa jenis pengemis ini, sehingga warga tidak curiga dan terpikir untuk segera melaporkan, mereka juga memang sudah didoktrin agar setia jangan sampai bocor, jadi mereka bertahan semaksimal mungkin menjaga kerahasiaan siapa sutradaranya.

Ilustrasi

Tentu akan hancur mata pencaharian mereka yang datang jauh-jauh jika bosnya ditangkap. Kebanyakan rekrutannya adalah orang-orang yang patah pensil, jadi mereka murni hanya berpikir kalau mereka diamankan petugas, mereka bingung dan tak tahu mesti bagaimana, sehingga penting untuk melindungi bosnya yang dianggap akan mengurus tetek bengeknya jika terjadi hal yang mereka tidak inginkan. Jadi kejahatan kelompok ini sangat terorganisir.

Toh, hal itu sudah biasa mereka lakoni. Mereka terlatih dan kaya pengalaman. Apalagi lantaran mereka dimanjakan oleh warga yang tidak paham untuk segera melaporkan, dan bagi mereka jika kebetulan kena naas lalu disanksi, itu perkara sepele dan cuma dianggap angin lewat (kentut) saja karena sudah biasa, jadi efek jera alergi untuk menyentuh mereka. Mungkin salah satunya disebabkan oleh warga yang memanjakan mereka.

Sungguh makmur kehidupan mereka, cuma modal minta-minta tanpa harus banyak mikir dan menguras keringat berair halal. Yang mereka pikir itu cuma jalan mana yang belum dilewati, dan rumah mana yg belum jadi korbannya? Gampang sekali kan!

Budaya ini sungguh sangat merusak, tontonan yang tidak mendidik, suatu sikap yang memiskinkan martabat manusia. Ini budaya yang miskin akal sehat, budaya tidak waras. Mengajarkan cara mudah ditiru untuk memperoleh uang yang banyak, tetapi tidak bermoral.

Sehingga tidak ada alasan untuk ditoleransi, karena ini budaya malas mikir, malas ikhtiar, malas kerja terhormat. Kebiasaan yang menipu akhlak, dan membunuh perilaku yang berkeadaban. Mengapa saya katakan demikian? Terang saja, karena ini penipuan, layaknya parasit yang menggantungkan kelanjutan hidupnya sekeluarga denga modal nebeng di atas pengorbanan orang lain, Budaya rajin ngemis ini cuma memanfaatkan keringat orang lain.

Untuk itu saya ingin mengajak masyarakat agar informasi ini menjadi bahan renungan kita semua, dan mari kita bekerjasama untuk memerangi jenis kejahatan bertopeng pengemis ini. Jangan diberi uang, segera laporkan dan tahan sampai petugas tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Jika ingin bersedekah, ada lembaga resmi yang berbadan hukum, seperti BAZ, LazisMu, LazisNu, panti jompo, atau panti asuhan. Kita juga bisa bersedekah ke tetangga atau kenalan yang jelas nyata kita tahu kesusahannya. Atau bisa juga sedekahnya di kotak amal yang ada di sekitar kita.

Oleh : Fajar Mentari, S.Pd
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM