Sidang Teroris, Saksi Ahli Labfor Polri Dihadirkan

Selasa, 18 Desember 2018 | 09:12

Bagikan:
TERORISME : Saat berlangsungnya sidang kasus perkara terorisme dengan mendatangkan tim ahli Labfor, di pengadilan negeri Tarakan.


TARAKAN - KORANDIGITALNET.COM – Sidang kasus perkara terorisme yang digelar senin siang (17/12) dengan terdakwa Agus Salim diagendakan keterangan saksi ahli, yakni Ahli Digital Forensik Laboratorium Forensik (Labfor) Polri, Kompol Hadi Setiono.

Dalam sidang tersebut, keterangan saksi ahli mengenai video tersebut mengatakan, bahwa video terebut merupakan video asli.

"Jadi Video itu asli, kalau untuk mengetahui terdakwa hanya sendiri dan mengenai kepastian suara dalam video adalah suara terdakwa. Termasuk soal dimana video dibuat terdakwa, maupun waktu pembuatan, kita tidak bisa mengungkap, karena kami hanya fokus pada pembahasan masalah sesuai permintaan penyidik Dirkrimsus Polda Kaltara saja," katanya.

Lanjutnya, dirinya telah melakukan pemeriksaan terhadap video tersebut, bahwa video tersebut ada dan belum dihapus terdakwa.

Selain itu, Majelis Hakim, Kurnia Sari Alkas juga sempat menanyakan kemungkinan terdakwa tidak sendiri membuat video, karena didalam video kedua tangan terdakwa terlihat bersamaan. “Apakah terdakwa menggunakan alat bantu atau ada kemungkinan orang lain yang merekam,” tanya Majelis Hakim.

Namun, hal tersebut tidak bisa dijawab oleh ahli, karena keterbatasan permintaan penyidik. “Jadi, ahli tidak bisa menguraikan secara lanjut, kapan, jam berapa dan apakah terdakwa sendiri saat membuat video tersebut. Karena ahli hanya meneliti sesuai permintaan penyidik saja, salah satunya meneliti jenis video seperti apa,” sambung Ketua Majelis Hakim, Toni Irfan.

Sementra itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Debby F Fauzi juga menambahkan video berdurasi 2 menit 50 detik ini berukuran 3.907 frame dan memang ditemukan didalam hp milik terdakwa.

“Memang tadi sempat dipertanyakan video lain didalam hp terdakwa, namun saksi ahli menjelaskan soal seputaran video itu saja tidak melebar kemana-kemana, sesuai permintan Dirkrimsus Polda Kaltara," tuturnya.

Sementara, untuk dua saksi lainnya, ahli pidana dan ahli psikologi tidak bisa dihadirkan JPU dipersidangan. Keterangan dua orang ahli ini, dalam Berkas Acara Pemeriksaaan (BAP) akhirnya dibacakan.

“Jadi hal yang dilakukan terdakwa terkena ancaman pidana terorisme Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,” tutupnya. (AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM

Rahmat Efendi Caleg No Urut 3 Partai Solidaritas Indonesia

Rahmat Efendi Caleg No Urut 3 Partai Solidaritas Indonesia
Jangan Lupa Coblos No Urut 3 Dapil Tarakan Barat dari Partai Solidaritas Indonesia