Katain Wartawan Dibayar Polisi, PWI Minta Oknum Mahasiswa Klarifikasi

Selasa, 18 September 2018 | 08:41

Bagikan:
DEMO : Saat Alif melakukan orasi di depan kantor DPRD Tarakan, Senin (17/9/2018)


TARAKAN - KORANDIGITALNET.COM – Demo yang digelar di gedung DPRD Kota Tarakan Kemarin (18/9) dengan melemahnya Rupiah di Indonesia oleh Mahasiswa dari berbagai organisasi Di Tarakan berakhir ricuh. Pasalnya, para pengunjuk rasa gagal masuk ke gedung DPRD Tarakan untuk menyampaikan aspirasinya.

Selain itu, saat melakukan unjuk rasa, salah satu mahasiswa menyampaikan dalam aksi tersebut bahwa menyebutkan wartawan dibayar pihak kepolisian saat hendak awak media melakukan wawancara terhadap Korlap pengunjuk rasa.

"Jadi kita pilih-pilih  wartawannya, hati hati ada wartawan yang dibayar polisi," ujar salah satu mahasiswa.

Usai mendengarkan seruan tersebut, pihak media mempertanyakan oknum mahasiswa tersebut yang menyebutkan wartawan dibayar polisi, dan juga sempat menjadi ketegangan terhadap mahasiswa serta wartawan.

Terkait hal itu, salah satu mahasiswa yang menyebutkan wartawan dibayar mengklarifikasi hal tersebut. "Saya klarifikasi, karena tadi terpancing emosi dan saya juga melihat media nasional yang saat ini meliput aksi aksi ini kebanyakan tidak netral dan maka dari itu saya mengeluarkan kata kata seperti itu," jelas Alif.

Ia juga mengaku tidak mengetahui apakah di Tarakan ada media yang tidak independen atau memihak salah satu pihak. “Saya memang tidak ada buktinya, tapi yang saya lihat dari hasil diskusi kami dengan teman-teman, banyak wartawan yang kemudian membuat berita secara tidak netral terhadap aksi. Seperti media online maupun media cetak, ada yang melakukan tindakan tidak netral terhadap pemberitaan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Hukum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tarakan, Jafar Nur memastikan bahwa dalam menyampaikan pemberitaan, wartawan harus bertindak independent dan menghasilkan berita akurat, berimbang maupun tidak beritikad buruk, sesuai pasal 1 kode etik jurnalis.

“Kan ada di pasal 3 dimana menyebutkan bahwa wartawan untuk memberitakan tidak menghakimi sepihak," terangnya.

Kemudian itu, dirinya juga mengungkapkan, awak media selalu memberikan hak jawab secara professional kepada pihak manapun yang merasa dirugikan dalam salah satu beritanya. 

Dirinya juga menyesalkan dengan perkataan oknum mahasiswa tersebut yang mengungkapkan bahwa ada wartawan dibayar polisi. "Harus ada bukti baru ngomong seperti itu, dan kami berharap mahasiswa yang menyuarakan seperti itu harus mengklarifikasi dan meminta maaf kepada wartawan," tutupnya.(AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM