Tenaga Pendidik Di Tarakan Kurang

Monday, August 27, 2018 | 19:46

Bagikan:
Muhammad Ilham Noor, Kepala Disdikbud Kota Tarakan


TARAKAN - KORANDIGITALNET.COM – Tenaga kependidikan di Kota Tarakan tidak seimbang dengan jumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada di Kota Tarakan, Merujuk data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan, jumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada hanya 48 sekolah terbagi di 20 Kelurahan di Tarakan. Sementara, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri hanya 12 sekolah. 

Dari data ini, satu rombongan belajar (rombel) di SDN diisi 28 orang siswa dan satu rombel di SMP diisi 32 orang. Dengan jumlah sekolah yang ada ini, ternyata Tarakan masih kekurangan tenaga pendidik. Hal ini, menurut Kepala Disdikbud Tarakan, Muhammad Ilham Noor kekurangan tenaga pendidik ini karena setiap tahun ada yang pensiun, apakah karena masa jabatannya yang sudah habis atau meninggal dunia.

“Selain itu ada juga pensiun karena ada proses mutasi, atau ada juga proses lain yang tidak memenuhi standar. Dalam arti, pada saat pengangkatan kita minta meningkatkan kompetensi tetapi tidak dilakukan, akhirnya beralih dan dimutasi,” ujarnya.

Belum lagi yang pensiun karena dimutasi atau meninggal dunia hingga karena faktor kesehatan, bahkan Ilham Noor mengungkapkan, ada beberapa guru yang ternyata usianya masih layak, namun karena kesehatan tidak memungkinkan, akhirnya mengajukan pensiun dini. 

“Apalagi waktu pemekaran Kaltara, jadi ada mutasi ke Kaltara karena promosi atau ikut proses yang sudah diterapkan,” katanya.

Ia mengungkapkan, sebenarnya Disdikbud pernah mengajukan penambahan sekolah, namun setelah jumlah sekolah ditambah pemerintah, ternyata tidak diikuti penambahan jumlah tenaga pendidik. Akhirnya semakin mengurangi jumlah tenaga pendidik yang ada, sementara setiap tahun ada sekitar 10 sampai 15 orang tenaga pendidik yang pensiun secara normal.

Sementara, sambung mantan Sekretaris DPRD Tarakan ini, dengan jumlah tenaga pendidik yang kurang, jumlah penduduk Tarakan malah bertambah secara vertical. Tetapi, sekolah pun juga belum bertambah dan hanya mengembangkan sekolah, tenaga pendidik tidak ditambah. “Jadi, sangat timpang. Sementara disatu segi kita mau melakukan proses pembelajaran,” bebernya.

Menurutnya, dengan permasalahan di dunia pendidikan ini, perlu peran serta Komite Sekolah untuk bisa berpartisipasi memberikan dukungan dalam bentuk sumbangan, agar proses pembelajaran tetap berjalan. Sumbangan ini, kata Ilham bisa digunakan untuk membiayai tenaga pendidik dengan status honorer.

Dengan keterbatasan anggaran yang diprogramkan dalam BOP maupun BOS, maka partisipasi masyarakat harus diikutsertakan. “Jangan lagi ada pemutusan hubungan kerja untuk guru tenaga honorer, karena sekolah tidak mampu membayar,” tandasnya.

Tidak hanya itu, untuk ruang belajar yang tidak bertambah juga menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah. “Idealnya, dengan jumlah penduduk yang ada ini, untuk Sekolah Dasar kita harus minimal menambah dua sekolah, karena usia pendidikan lulusan TK dan PAUD itu SD itu tinggi terutama yang masih berusia dibawah 7 tahun, jadi SD yang ada hampir tidak bisa menampung,” tutupnya. (AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM