BKIPM Awasi Ikan Berformalin di Pasar Tradisional

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 08:58

Bagikan:
IKAN BERFORMALIN : Nampak salah satu petugas BKIPM memperlihatkan ikan yang akan diperiksa, apakah mengandung formalin atau tidak.


TARAKAN - korandigitalnet.com - Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Ikan (BKIPM) Tarakan, rutin melakukan pengawasan terhadap ikan yang dijual di pasar-pasar tradisional yang ada di Tarakan, diantaranya di Pasar Gusher, Pasar Beringin maupun di Pasar Tenguyun Bom Panjang. Hanya saja, ada yang khusus ditahun ini, seperti disampaikan Kepala BKIPM Tarakan, Umar ada Intruksi Presiden (Inpres) No. 01 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yaitu mengawasi mutu dan keamanan hasil perikanan.

Dalam Inpres ini, di Indonesia hanya beberapa wilayah yang masuk, salah satunya Tarakan. Inpres bersifat khusus untuk memastikan ikan yang ada di Tarakan sesuai dengan aturan. Yaitu, bebas formalin, bebas logam berat dan bebas dari masalah penyakit lainnya akan dipastikan semuanya.

“Intinya, layak konsumsi dan pangan sehat,” ujarnya.

Namun, sejauh ini, kata dia ada yang menjadi perbedaan persepsi, seperti ikan Papija yang biasa dimanfaatkan sebagai bahan utama ikan asin tipis, khas Tarakan, ternyata mengandung formalin. Ternyata, dari hasil uji sample, kandungan formalin memang dari alam dan bukan sengaja digunakan untuk mengawetkan ikan.

Pasar Tenguyun, Beringin dan Ghuser menjadi target operasi bagi BKIPM.


“Ini masih kita kaji, ambang batasnya berapa untuk layak konsumsi,” ungkapnya.

Sementara, untuk ikan lain yang ada di Pasar Beringin maupun pasar tradisional lainnya, sambung Umar, untuk sementara ini yang terpantau masih dalam batas wajar. Misalnya, terkait formalin masih belum ada ditemukan, kecuali yang memang terkandung di ikan itu sendiri, jenis ikan tertentu yang dari alamnya.

“Kita belum temukan ada ikan berformalin di Tarakan. Tetapi, terkait ikan berbakteri atau mengandung penyakit tertentu, masih dibawah ambang batas dan layak untuk konsumsi,” beber Umar.

Pengawasan ini, kata Umar lagi sebenarnya selain dipasar tradisional, juga rutin dilakukan terhadap ikan yang akan dikirim keluar kota melalui Bandara sampai ikan yang masih ada di pengusaha. Hanya saja, untuk penerapan Inpres, baru dilakukan dua kali sepanjang tahun ini.

Selain pengawasan, pengambilan uji sample juga dilakukan dan jika laboratorium yang ada di BKIPM tidak memadai, maka sample akan dikirim ke Laboratorium yang ada di Surabaya dan tinggal menunggu hasilnya.

“Banyak sample yang kita kirimkan ke Surabaya, karena kan ada beberapa pengujian diantaranya mikrobiologi, logam berat dan beberapa jenis ikan,” imbuhnya.

Namun, sejauh ini, Umar mengaku belum ada keluhan dari masyarakat terkait ikan berformalin di pasar tradisional. Justru keluhan yang ia dapatkan dari masyarakat yang mengkonsumsi ikan budidaya, seperti ikan mas, ikan patin dan ikan nila di Kaltara.

Terakhir, laporan yang ia terima ada ikan mati mendadak di wilayah Kabupaten Tana Tidung (KTT), sudah dilakukan follow up dan hasil dari pengujian ada penyakit umur. “Tetapi mungkin dari kualitas airnya, managemen kualitas air yang kurang bagus,” tutupnya. (AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM