Pakar Literasi Berkumpul Di Tarakan Untuk Mencari Solusi Tingkatkan Mutu Pendidikan

Selasa, 17 Juli 2018 | 09:32

Bagikan:
LITERASI : Manajer Provinsi Inovasi Kaltara Handoko Widagdo menyerahkan cendera mata kepada para pemateri literasi di UBT kemarin.


TARAKAN - korandigitalnet.com - Universitas Borneo Tarakan (UBT) bekerja sama dengan program kemitraaan pendidikan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia tadi 16 hingga 18 Juli mengelar seminar untuk menemukan solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa kelas awal di gedung Rektorat UBT.

"Jadi kami menghadirkan ahli literasi kelas awal dari dalam dan luar negeri untuk berbagi pengalaman mengatasi masalah rendahnya kemampuan membaca di sekolah dasar, kami juga berharap seminar ini bisa memberikan rekomendasi kepada semua pemangku kepentingan," jelas Rektor UBT Tarakan, Adri Patton.

Seminar ini sendiri juga sekaligus merupakan bentuk kerjasama kemitraan antara Australia dan Indonesia, sehingga program Inovasi bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar literasi dan numerasi siswa jenjang sekolah dasar.

Sekretaris Dua Bidang Pembangunan Manusia, Departement Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengungkapkan, kerjasama Australia dan Indonesia dalam program Inovasi ini karena memang memiliki kemitraan yang dekat. “Kita sudah memiliki peningkatan yang signifikan dalam hal kerjasama dibidang pendidikan,” jelasnya menjelaskan materi seminar.

Mark Heyward, Direktur Program Inovasi juga mengatakan, sebenarnya tidak ada perbandingan khusus antara Australia dan Indonesia, terkait minat dan kemampuan membaca di kelas awal melalui program Inovasi ini.  

"Jadi minat baca ini adalah halnyang menarik, dan juga kita tidak bisa membandingkan antara Australia dan Indonesia terkait minat baca ini," ujarnya.

Manajer Provinsi Inovasi Kaltara Handoko Widagdo pun mengungkapkan, program Inovasi sebenarnya tidak hanya menyasar wilayah perkotaan, tetapi juga ada penerapan literasi di daerah pedalaman. Inovasi, sesuai permintaan Pemerintah Daerahnya, akan memperkenalkan supervisi berbasis medsos. Pihaknya juga bekerja sama dengan badan bahasa menggunakan buku digital untuk kembangkan belajar mengajar disekolah, jadi hanya berbekal kabel bisa mempercepat proses literasi yg ada.

“Ini yang kita harapkan bisa menyampaikan program inovasi ke daerah terpencil, jadi mungkin mereka sudah punya whatsapp, kita tinggal sediakan materi yang akan mereka pakai. Kami sedang mempersiapkan pilot kecil di Bulungan, misalnya untuk bisa menyampaikan program ini ke Desa Peso yang jauh atau Kecamatan Krayan di Nunukan yang hanya bisa dilalui pesawat dengan biaya mahal, supervisi dengan medsos akan sangat membantu wilayah pelosok,” bebernya. 

Selain itu, dibutuhkan intervensi agar keterampilan membaca anak-anak kelas awal meningkat, didukung juga dengan ketersediaan buku yang relevan, metodologi mengajar yang efektif, sumber daya guru yang berkualitas dan kesempatan untuk membaca merupakan kunci yang paling penting untuk membantu anak terampil membaca. 

Wakil Rektor I UBT, Adi Sutrisno juga menambahkan hasil Assesmet Kompetensi Siswa Indonesia (Aksi) tahun 2016 yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjukkan 46,3 persen siswa SD masih belum terampil membaca. Sementara, hanya dengan terampil membaca anak bisa paham semua mata pelajaran, dan mamu memahami maupun mengembangkan isi dari bacaan itu dengan bahasanya sendiri.

“Kegiatan semacam seperti literasi dengan menghadirkan antar stakehlolder memang perlu dilakukan. Setelah ini harus ada tindaklajutnya, agar literasi kelas awal bisa meningkat dan hasil dari seminar ini juga akan menjadi inspirasi untuk sharing dengan Perguruan Tinggi yang lain,” katanya. 

Sementara itu, Kasubdit Kurikulum Direktorat Pembinaan SD Kemendikbud Djuandanilsyah mengungkapkan dalam hal meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas awal ini, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan perlu kerjasama semua pihak. Kemendikbud pun sudah mulai menerapkan gerakan diskusi dan praktek-praktek bercerita dari buku bacaan disetiap sekolah. 

“Kita sudah mulai sosialisasikan kegiatan, coba membaca 15 menit disekolah, diikutkan pengambangan dan menyampaikan apa yang sudah dibaca. Terkait pembelajaran di SD ini juga ada program literasi sehingga ada program konteks mengembangkan membaca, jadi tidak hanya membaca tapi baca tulis, numerik dan lainnya,” ungkapnya. 

Kemudian itu juga, Hal yang sama juga disampaikan Sigit Muryono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltara. Terkait kewenangan memang diakuinya untuk SD dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ada didaerah, namun Pemprov juga berperan untuk mengeluarkan kebijakan daerah seperti gerakan literasi sekolah, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud). “UBT sebagai produsen guru SD juga harus bertanggungjawab, makanya kita sambut baik seminar yang dilakukan dengan UBT sebagai tuan rumah ini. Kita harapkan dengan sosialisasi seluruh lapisan bisa sebagai monitoring didaerah,” tutupnya. (AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM

Rahmat Efendi Caleg No Urut 3 Partai Solidaritas Indonesia

Rahmat Efendi Caleg No Urut 3 Partai Solidaritas Indonesia
Jangan Lupa Coblos No Urut 3 Dapil Tarakan Barat dari Partai Solidaritas Indonesia