Terdakwa Sabu 11 Kg, PH Keberatan Dengan Vonis Klienya Andi Bin Arif di Vonis Hukuman Mati

Monday, April 9, 2018 | 22:29

Bagikan:
HUKUMAN MATI : Terdakwa  Andi Bin Arif terpidana mati oleh pengadilan negeri Tarakan.



korandigitalnet.com - TARAKAN – Setelah memvonis lima terdakwa dengan hukuman seumur hidup dan hukuman mati, Donny Tri Istiqomah yang merupakan Koordinator Ketua Tim Penasehat Hukum Andi Bin Arif, keberatan dengan putusan terhadap kliennya tersebut dan mengajukan banding. Pasalnya, pihak Jaksa Penuntut tidak bisa menunjukan bukti yang apapun yang melibatkan kliennya Andi Bin Arif. 

“Seperti Handphone, Kan berdasarkan keterangan JPU bahwa si Andi Bin Arif ini dituduh menyuruh para saksi mengambil sabu-sabu berkomunikasi mengunakan Hp, sedangkan BNN tidak sedikitpun berupaya untuk mengeledah dan menyita Hp yang digunakan terdakwa,” jelas Donny Tri Istiqomah saat ditemui awak media.

Lanjutnya, pihaknya mengaku putusan hakim tersebut tidak berpijak pada kebenaran Materil (kebenaran hakiki) sebagaimana yang terungkap dan menjadi fakta persidangan. Dan itu juga merupakan kebenaran materiil menjadi syarat mutlak bagi hakim dalam memperoleh keyakinannya.


“Jadi tuntutan hakim ini tidak berpijak kepada fakta yang ada dan membuat klien kami dipidana atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Dan ini jelas melanggar Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman,” lanjutnya.

Ia juga mengaku, sebagai penegak hukum tidak seharusnya menghukum seseorang, melainkan menegakkan keadilan bagi semua orang. Jika ternyata seseorang itu terbukti tidak bersalah maka harus dibebaskan demi terwujudnya penegakan hukum. “Bukan seperti ini malah menghukumnya, apalagi dengan hukuman mati,” tegasnya.

Selain itu juga, Donny menganggap bahwa kliennya tidak bersalah, karena berdasarkan bukti-bukti selama persidangan, bahwa Andy Bin Arif merupakan korban salah tangkap.

“Jadi berdasarkan fakta persidangan menunjukan Andi Bin Arif diangkut dari Lapas Tarakan berdasarkan pengakuan dan keterangna saksi-saksi yang ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelumnya. Sedangkan saat dipersidangan selama ini pengakuan dari saksi-saksi itu terbukti merupakan rekayasa penyidik dengan mengintimidasi dan penganiayaan fisik pada para saksi,” terangnya

Kemudian itu, dengan didapatmya keterangan saksi tersebut diperoleh dengan cara mengintimidasi dan penganiayaan fisik bagi saksi yang telah dituangkan di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sampai akhirnya para saksi di dalam persidangan memberanikan diri mencabut keterangan BAP-nya.

“Jadi mereka itu saat dilakukannya penyelidikan, ada Security BNN yang melihat penganiayaan dan Intimidasi itu. Saat persidangan kesaksian itu, malahan Security itu sengagaja diabaikan oleh Majelis Hakim,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, munculnya pengakuan para saksi yang menyatakan bahwa sabu-sabu tersebut diambil dari tawau adalah milik Andi Bin Arif adalah karangan dan rekayasa dari Polisi BNN. 

“Saat Saksi ditangkap itu, saksi langsung dikasih lihat foto Andi oleh BNN dan dipaksa untuk mengakui bahwa orang yang ada didalam foto itu yang menyuruh mereka. Maka dari itu mereka disiksa dan diintimidasi untuk mengikuti kemauan Polisi BNN,” Kata Donny.

Menanggapi hal ini Ketua PN Tarakan Wahyu Iman Santoso mengatakan, dalam memutuskan suatu perkara majelis hakim berdasarkan lima alat bukti, yakni keterangan saksi, terdakwa, keterangan ahli, bukti surat dan keyakinan hakim.

“Jadi dari kelima alat bukti itulah Hakim bisa mengambil keputusan itu,” tutupnya. (AD)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM