Nurtanio, Solusi Kaltara Meretas Batas Pelayanan Masyarakat 3T (1)

Tuesday, January 16, 2018 | 10:40

Bagikan:
Humas Provinsi Kaltara
PERETAS BATAS : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie bersama Wagub Kaltara H Udin Hianggio dan Ketua DPRD Kaltara Marthen Sablon berfoto di depan salah satu pesawat N-219 Nurtanio, Jumat (12/1).



KORANDIGITALNET.COM - KALTARA -Bersamaan dengan peluncuran pesawat karya anak negeri oleh Presiden Jokowi, pada 2017 lalu Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie melontarkan niatnya untuk membeli pesawat N-219 Nurtanio yang dibuat PT Dirgantara Indonesia atau PTDI (Persero) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) itu. Gagasan ini merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan pelayanan transportasi bagi masyarakat di wilayah perbatasan. Bagaimana mewujudkan cita-cita itu? 

HUMAS PROVINSI KALTARA

2018 menjadi tahun penegasan berbagai isu yang ingin dituntaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara. Salah satunya, isu pelayanan masyarakat di wilayah 3T (Terpencil, Terluar dan Tertinggal). Menurut Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, solusi cepat dan tepat untuk menangani persoalan itu, adalah menggunakan moda transportasi udara yang kontinuitas dan optimal.  

Untuk itu, maka dicetuslah rencana pembelian pesawat. Yang disasar, pesawat terbaru buatan PTDI bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Yakni, pesawat N-219 Nurtanio. Pesawat ini dirancang oleh tangan-tangan kreatif putra-putri Indonesia, berbeda dengan pesawat lain produk PTDI. Desainnya memang mengambil sampel kondisi wilayah Papua yang ekstrem. 
Dari itu, dengan kemiripan kondisi geografis dan topografisnya, maka N-219 ini cocok untuk digunakan di Kaltara, jelas Gubernur.

Landasan tak beraspal dengan kepanjangan 400-500 meter, bisa dijejaki pesawat 19 penumpang ini. Untuk take off, Nurtanio dapat melakukannya pada jarak 375 meter. Sementara untuk landing, jarak maksimal yang dibutuhkan 509 meter. 

Pesawat ini memiliki multipurpose cabin. Artinya, kabin yang ada bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Kursinya juga bisa dilipat, kalau untuk kebutuhan mengangkut barang atau pelayanan kesehatan. Itu penjelasan dari PTDI-nya, ungkap Irianto.

Ya, pesawat baling-baling ini memiliki maksimal muatan hingga 2,3 ton dengan maksimal bahan bakar hingga 1,6 ton. Dengan kapasitas bahan bakarnya itu, Nurtanio menurut estimasi PTDI, dapat terbang sejauh 480 Nautical Mile (NM) atau sampai Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) ke atas. Sementara optimalnya, hingga 240 NM atau sampai ke Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). 

Dari penjelasan PTDI, bisa juga sampai ke Manado, Sumatera Utara (Sumut) untuk sekali terbang. Sementara kalau ke Balikpapan, bisa PP (Pulang Pergi). Jadi, untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau lainnya, apabila dibutuhkan ke daerah-daerah itu, Nurtanio juga mampu, kata Gubernur.

Pesawat ini terbang pada ketinggian 10 ribu feet. Untuk menerbangi wilayah perbatasan Kaltara, Nurtanio diyakini dapat melakukannya dengan baik. Sesuai paparan PTDI, semua rute perintis yang ada dapat dilayani. Baik ke Long Apung (160 NM/1,19 jam) dari Tanjung Selor, Long Layu (57 NM/0,57 jam) dari Binuang-Malinau, Long Bawan (140 NM/0,86 jam), dan lainnya. 
Dengan layanan Nurtanio nantinya, seharusnya berpengaruh pada kondisi perekonomian warga di perbatasan. 

Utamanya, kesehatan juga harga barang yang akan jauh lebih murah. Karena kondisi saat ini, ada istilah masyarakat di perbatasan Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku karena warga disana lebih memilih berobat atau membeli bahan pokok di Malaysia lantaran sulitnya mendapatkan barang dari Indonesia, kalaupun ada mahal. Dengan layanan ini nantinya, harus diubah hal itu menjadi, Garuda di Dadaku, Merah Putih di Perutku, bebernya. (bersambung) (as)

Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM