Investasi Terbesar Tiongkok Di Indonesia Adalah Kaltara, Nilainya USD 26.5 Miliar

Monday, November 20, 2017 | 18:54

Bagikan:
Dok. Photo bersama Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie dan para delegasi Indonesia - China di Beijing. (20/11). 



KORANDIGITALNET.COM  -  China - Gubernur Kalimantan Utara Dr Ir H Irianto Lambrie mengikuti pertemuan bilateral kerjasama Indonesia - China dan Seminar Pembiayaan Pembangunan atau seminar on Development Finance & China-Indonesia Cooperation di Beijing, China pada 20-24 November 2017.

Pertemuan tersebut difasilitasi oleh China Development Bank. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Pihak Kementerian Koordinator Kemaritiman,  yang diwakili oleh Deputi Bidang Pembangunan Infrastruktur, Ridwan Djamaluddin.

Rombongan Delegasi dari Indonesia, terdiri dari Gubernur Kaltara Irianto Lambrie, Gubernur Bali,  I Made Mangku Pastika, Gubernur Sumut dan Sulut serta para pejabat Eselon 1 dari Kementerian/Lembaga (Bappenas, BKPM, Kementerian Perindustrian, dll). 

Irianto menjelaskan, Rombongan delegasi Indonesia didampingi oleh Dubes RI untuk RRC,  Soegeng Rahardjo,"Urainya. 

Dalam pertemuan tersebut juga hadir para Dirut/Pimpinan BUMN, serta para pengusaha/calon investor dari Indonesia dan China. Kebanyakan dari investor ini, adalah mereka yang telah menyatakan minatnya berinvestasi di Kaltara. Seperti di antaranya, PT Kayan Hydro Energy, Sarawak Energy Berhad, Gezouba, dan beberapa lainnya.

"Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari program kerjasama bilateral antara Indonesia dan Pemerintah China (Tingkok) melalui skema Global Maritime Fulcru (GMF) dan Belt Road Initiative (BRI) yang juga sering disebut OBOR (One Belt and One Road) Initiative,"Kata Irianto. 

Dari pertemuan tersebut akan menghasilkan beberapa kesepakatan. Di antaranya mengenai proyek-proyek apa saja yang akan disupport pendanaan oleh China Development  Bank, sebagai investasi di Indonesia. Terutama ke daerah-daerah yang masuk dalam skema kerja sama GMF-BRI. Yang salah satunya adalah Kalimantan Utara.

Gubernur Kaltara ini juga menguraikan bahwa, Program kerjasama BRI Indonesia-Tiongkok dilakukan di empat provinsi di Indonesia. Yaitu, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan terakhir masuk juga Provinsi Bali, Di Kalimantan Utara, melalui skema kerja sama ini difokuskan pada pengembangan investasi untuk pembangunan sektor perkebunan, hydro power, serta pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi. Termasuk juga rencana pembangunan kilang minyak,"Jelasnya. 

Nilai investasi melalui skema kerja sama ini lumayan besar. Untuk Kalimantan Utara direncanakan mencapai USD 26,5 Miliar. Kaltara merupakan yang terbesar, dibanding tiga provinsi lainnya. Untuk Sumatera Utara USD 17,2 Miliar, Sulawesi Utara USD 10,6 miliar dan Bali USD 10,3 miliar, Hal tersebut merupakan kesempatan emas bagi Provinsi Kalimantan Utara, untuk mempu memanfaatkan kerjasama ekonomi antara Indonesia – China melalui skema BRI. 

"Namun demikian, lagi-lagi saya sampaikan, investasi besar ini akan bisa direalisasikan sangat tergantung dari mindset (pola pikir), cara kerja dan sikap dari semua pihak yang ada di Kaltara, Mulai dari jajaran pemerintah hingga masyarakatnya dalam merespons atau menyikapinya, Karena itu, saya mengajak mari bekerja keras, bersemangat, bekerja cepat, dan selalu berprasangka baik (berpikir dan bersikap positif), disiplin, solid dan berhati bersih, serta berpikir jernih, Agar seluruh kemampuan dan kecerdasan kita dapat secara optimal dimanfaatkan, untuk mewujudkan Kaltara yang maju dan sejahtera," Terang Gubernur Provinsi termuda di Indonesia ini. (Babe/Ansor)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM