H.Irianto Lambrie - Kenapa Eksport Kepiting di Kaltara Terhenti dan apa Penyebabnya ?

Thursday, July 13, 2017 | 10:40

Bagikan:
Humas Provinsi Kaltara : Gubernur Kaltara Dr.H.Irianto Lambrie di dampingi Sekprov H.Badrun dan Kadis DKP Provinsi Kalimanatan Utara H.Amir Bakrie kala meninjau keramba di Sebatik Kab.Nunukan.

KORANDIGITALNET.COM - JAKARTA-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) telah memfasilitasi ekspor kepiting dan udang asal daerah ini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun disayangkan, program itu tidak berjalan. Oleh Pemprov melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara telah melaporkan hal ini kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. 

Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie sangat menyayangkan vakumnya kegiatan ekspor komoditas tersebut. Padahal usaha ini telah digadang-gadang mampu memberi keuntungan yang lebih besar kepada petambak dan pelaku usaha di Kaltara. “Ini sangat disayangkan. Padahal tujuan kita memfasilitasi itu agar usaha budidaya udang dan kepiting itu bisa lebih bergairah dari yang ada sekarang,” kata Irianto. 

Hitungan biaya dan waktu yang diperlukan selama mengekspor kepiting, via pesawat udara jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan jalur laut. Ekspor via udara juga mempunyai resiko keamanan yang lebih kecil jika dibandingkan lewat jalur ilegal di perairan laut. “Untuk sampai di Kuala Lumpur saja hanya butuh 2 jam. Sedangkan yang lewat jalur perairan, 2 jam baru sampai di Tawau. Cost-nya pun lebih tinggi. Selisih 20 persen,” ujar Gubernur.

Irianto menegaskan, salah satu tujuan pemerintah daerah memfasilitasi ekspor komoditi laut ini adalah untuk mengarahkan agar para pengusaha kepiting dan udang bisa menjadi eksportir resmi dan mandiri. Sayangnya, misi tersebut harus kandas di tengah jalan. “Kami mau masyarakat menjadi eksportir resmi. Bukan hanya orang Tawau yang menikmati keuntungan yang besar dari bisnis ini. Kami mau mulai dari petambak sampai pelaku usaha bisa berkembang lebih pesat,” sebutnya. 

Disebutkan, setiap hari Kaltara bisa memproduksi sebanyak 15 hingga 20 ton kepiting dalam kondisi hidup. Kepiting Kaltara digemari oleh pasar Tiongkok dan Hongkong. Hanya saja kegiatan ekspornya tak pernah terdata, sebab selalu menggunakan jalur tak resmi melalui Tawau, Malaysia. Di mana para pengusaha Tawau yang kemudian mengekspor kepiting yang asalnya dari Kaltara tersebut ke dua negara di Asia Timur itu. “Jadi kalau sudah sampai di Hongkong, orang tahunya itu kepiting dari Malaysia. Padahal kan dari Indonesia,” kata Irianto. 

Ke depan, lanjutnya, pemerintah mesti menyiapkan penampungan kepiting hasil tangkapan petambak, baik untuk keperluan ekspor maupun industri industri hilirnya. Sejatinya, brand Kaltara dan Indonesia diharapkan bisa tetap melekat sampai ke pasar global. “Sudah ada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang meninjau lokasi di Tarakan untuk membuat penampungan kepiting. Mereka harapkan ekspor jalur resmi tetap bisa berlanjut karena di Tarakan sudah ada bandara internasional,” sebutnya. 

Untuk diketahui, jika lewat jalur resmi, Sertifikat Kesehatan komoditas bisa dikeluarkan oleh badan karantina dalam negeri sehingga tak menjadi ancaman komoditas tersebut ditahan oleh badan karantina negara tujuan.  

Pasal 7 Undang-Undang (UU) RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan, dan Tumbuhan menyebut, setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan bagi hewan, bahan asal hewan, dan hasil bahan asal hewan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain. Kedua, wajib melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan. Dan ketiga, dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.

Tahun lalu saat Pemprov Kalimantan Utara menggandeng maskapai 3 MG, ekspor kepiting via pesawat udara dari bandar udara Juwata Tarakan ke Singapura sempat berlangsung sebanyak 6 kali. Dari Singapura, kepiting diangkut lewat jalur darat ke Kuala Lumpur. Lalu upaya ekspor kembali dijajaki bersama maskapai asal Malaysia, Asia Cargo Express, namun tak kunjung terealisasi.(humas/conggeng)
Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

SUARAKALTARA.COM

KOMANDOKALTARA.COM